Selasa, 17 Mei 2016

SEJARAH DAMPAK EL NINO DI INDONESIA


oleh Supari, M.Sc
Analis di Kedeputian Klimatologi BMKG

Fenomena El-Nino

El Nino adalah suatu gejala penyimpangan kondisi laut yang ditandai dengan meningkatnya suhu permukaan laut (sea surface temperature-SST) di samudra Pasifik sekitar equator (equatorial pacific) khususnya di bagian tengah dan timur (sekitar pantai Peru). Karena lautan dan atmosfer adalah dua sistem yang saling terhubung, maka penyimpangan kondisi laut ini menyebabkan terjadinya penyimpangan pada kondisi atmosfer yang pada akhirnya berakibat pada terjadinya penyimpangan iklim.
Dalam kondisi iklim normal, suhu permukaan laut di sekitar Indonesia (pasifik equator bagian barat) umumnya hangat dan karenanya proses penguapan mudah terjadi dan awan-awan hujan mudah terbentuk. Namun ketika fenomena el-nino terjadi, saat suhu permukaan laut di pasifik equator bagian tengah dan timur menghangat, justru perairan sekitar Indonesia umumnya mengalami penurunan suhu (menyimpang dari biasanya). Akibatnya, terjadi perubahan pada peredaran masa udara yang berdampak pada berkurangnya pembentukan awan-awan hujan di Indonesia.
Fenomena el-nino diamati dengan menganalisis data-data atmosfer dan kelautan yang terekam melalui weather buoy yaitu suatu alat perekam data atmosfer dan lautan yang bekerja otomatis dan ditempatkan di samudra. Di samudra pasifik, setidaknya saat ini terpasang lebih dari 50 buah buoy yang dipasang oleh lembaga penelitian atmosfer dan kelautan Amerika (National Oceanic and Atmospheric Administration-NOAA) sejak 1980-an. Dengan alat-alat inilah kita mendapatkan data suhu permukaan laut sehingga bisa melakukan pemantauan terhadap kemunculan fenomena el-nino.
Fenomena el-nino bukanlah kejadian yang terjadi secara tiba-tiba. Proses perubahan suhu permukaaan laut yang biasanya dingin kemudian menghangat bisa memakan waktu dalam hitungan minggu hingga bulan. Karena itu pengamatan suhu permukaan laut juga bisa bermanfaat dalam pembuatan prediksi atau prakiraan akan terjadinya el-nino, karena kita bisa menganalisis perubahan suhu muka laut dari waktu ke waktu. Di BMKG, pemantauan terhadap fenomena el-nino juga dilakukan dengan memanfaatkan data dari buoy-buoy tersebut. Pemantauan ini dilakukan dengan membuat peta perkembangan suhu lautan baik sebaran spasial (lintang-bujur) maupun irisan vertikal yaitu peta suhu laut untuk beberapa tingkat kedalaman. Produk-produk analisis ini tersedia di web resmi BMKG.
Gambar 1. Contoh produk BMKG untuk monitoring fenomena el-nino. Dapat diakses disini

Dampak El-Nino

Pusat prakiraan iklim Amerika (Climate Prediction Center) mencatat bahwa sejak tahun 1950, telah terjadi setidaknya 22 kali fenomena el-nino, 6 kejadian di antaranya berlangsung dengan intensitas kuat yaitu 1957/1958, 1965/1966, 1972/1973, 1982/1983, 1987/1988 dan 1997/1998. Intensitas el-nino secara numerik ditentukan berdasarkan besarnya penyimpangan suhu permukaan laut di samudra pasifik equator bagian tengah. Jika menghangat lebih dari 1.5 oC, maka el-nino dikategorikan kuat.
Sebagian besar kejadian-kejadian el-nino itu, mulai berlangsung pada akhir musim hujan atau awal hingga pertengahan musim kemarau yaitu Bulan Mei, Juni dan Juli. El-nino tahun 1982/1983 dan tahun 1997/1998 adalah dua kejadian el-nino terhebat yang pernah terjadi di era modern dengan dampak yang dirasakan secara global. Disebut berdampak global karena pengaruhnya melanda banyak kawasan di dunia. Amerika dan Eropa misalnya, mengalami peningkatan curah hujan sehingga memicu bencana banjir besar, sedangkan Indonesia, India, Australia, Afrika mengalami pengurangan curah hujan yang menyebabkan kemarau panjang.
Di Indonesia, masih jelas dalam ingatan kita, pada tahun 1997 terjadi bencana kekeringan yang luas. Pada tahun itu, kasus kebakaran hutan di Indonesia menjadi perhatian internasional karena asapnya menyebar ke negara-negara tetangga. Kebakaran hutan yang melanda banyak kawasan di Pulau Sumatera dan Kalimantan saat itu, memang bukan disebabkan oleh fenomena el-nino secara langsung. Namun kondisi udara kering dan sedikitnya curah hujan telah membuat api menjadi mudah berkobar dan merambat dan juga sulit dikendalikan. Di sisi lain, kekeringan dan kemarau panjang juga menyebabkan banyak wilayah sentra pertanian mengalami gagal panen karena distribusi curah hujan yang tidak memenuhi kebutuhan tanaman.
Publikasi-publikasi ilmiah menunjukkan bahwa dampak el-nino terhadap iklim di Indonesia akan terasa kuat jika terjadi bersamaan dengan musim kemarau, dan akan berkurang (atau bahkan tidak terasa) jika terjadi bersamaan dengan musim penghujan. Dampak el-nino juga ternyata berbeda-beda antara satu tempat dengan tempat lain, bergantung pada karakteristik iklim lokal. Oleh karena itu, menjadi menarik bagi para analis iklim untuk memperhatikan sebaran dampak el-nino dari bulan ke bulan (khususnya di musim kemarau) dan dari satu lokasi ke lokasi lain, berdasarkan catatan kejadian el-nino di masa lalu. Analisis semacam ini bisa dijadikan acuan dalam menyusun kebijakan terkait dampak elnino, misalnya saja dalam kebijakan tentang ketahanan pangan.

Belajar dari Masa Lalu

Tahun ini, 2014, fenomena el-nino diperkirakan kembali terjadi. Rilis terbaru dari Earth Institute - Columbia University, (salah satu rujukan dalam membuat prakiraan el-nino), menyebutkan bahwa peluang kejadian el-nino mencapai lebih dari 60 %. El-nino tahun ini diperkirakan akan terjadi hingga awal tahun depan namun intensitasnya masih menjadi perdebatan. Sebagian memperkirakan el-nino lemah namun ada pula yang berpendapat akan terjadi el-nino sedang. Untuk mengantisipasi dampak el-nino, perlu kiranya kita mempelajari bagaimana perlaku iklim ketika dulu fenomena el-nino terjadi.
Analisis terhadap kejadian-kejadian el-nino masa lalu dengan menggunakan data hujan global (produk dari Global Precipitation Climatology Center - GPCC) menunjukkan bahwa dampak el-nino juga dipengaruhi oleh intensitas (kuat-lemah) dan durasi berlangsungnya el-nino. Semakin kuat dan lama el-nino terjadi, semakin kuat dampaknya terhadap iklim di Indonesia khususnya curah hujan.
Pada kasus el-nino dengan intensitas lemah-sedang, untuk Bulan Juli - Agustus, el-nino akan berdampak pada pengurangan curah hujan dengan kisaran 40 - 80 % (dibanding normalnya) terutama dirasakan di sebagian Sumatera, Jatim-Bali-NTB-NTT, sebagian Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan sebagian Papua. Sementara pada Bulan September - Oktober, dampak el-nino akan semakin parah ditandai dengan semakin luasnya area yang mengalami pengurangan curah hujan, meliputi seluruh Sumatera kecuali aceh, seluruh Jawa, Bali-NTB-NTT, sebagian besar Kalimantan, seluruh Sulawesi, Maluku dan sebagian besar Papua. Pada daerah NTB, NTT dan Sulawesi Tenggara bahkan curah hujan bisa berkurang hingga 20 - 40 % dari normalnya (lihat gambar 2).
Gambar 2. Daerah terdampak jika terjadi el-nino lemah-sedang, dinyatakan dalam prosentasi hujan terhadap normalnya.
Disebut daerah terdampak jika mengalami kondisi hujan di bawah normal saat el-nino terjadi.
Kasus el-nino yang diperhitungkan adalah kejadian el-nino sejak tahun 1950. Sumber data hujan :GPCC.

Sementara pada kejadian el-nino kuat, kejadian curah hujan di bawah normal melanda wilayah yang lebih luas. Wilayah-wilayah yang tidak terdampak oleh el-nino lemah-sedang seperti Sumbar, Bengkulu dan Kalbar, akan terkena pengaruh el-nino kuat. Di beberapa wilayah seperti Sumsel, Babel, Lampung, Jateng, Jatim, Bali-NTB-NTT, Kalsel, Sulsel, Sultra, Maluku dan sebagian Papua bahkan curah hujan hanya turun dalam kisaran 10-30 % dibanding normalnya, terutama pada Bulan September dan Oktober (Gambar 3).
Gambar 3. Sama dengan gambar 2 tapi untuk fenomena el-nino kuat. Sumber data hujan :GPCC.

Jelaslah kiranya, bahwa fenomena el-nino berpengaruh kuat terhadap iklim di Indonesia. Berkurangnya curah hujan dan terjadinya kemarau panjang adalah dampak langsung yang bisa memicu masalah lain pada sektor pertanian seperti gagal panen dan melemahnya ketahanan pangan. Oleh karena itu, perlulah kiranya segera dibuat peta daerah rawan dampak el-nino hingga level kabupaten agar bisa disusun kebijakan-kebijakan yang tepat dalam mengantisipasi fenomena el-nino. Ingat, tahun ini el-nino diperkirakan akan terjadi mulai bulan depan, Juli 2014.
::: wbi


  » Informasi lainnya...

Mengharap Hujan di Penghujung Kemarau [22/10/2014]
Beberapa wilayah Indonesia terutama di Sumatra bagian selatan, Jawa hingga Nusa Tenggara dan Sulawesi bagian selatan akhir-akhir ini telah lebih dari dua bulan berturut-turut tidak mendapat hujan. Kondisi kering mulai dirasakan sejak pertengahan bulan September lalu. Daerah-daerah tersebut memang relatif lebih kering dari daerah di sekitarnya. Kondisi curah hujan rendah terus berlangsung sampai dengan sepuluh hari pertama Oktober 2014.


Mewaspadai Musim Kemarau Di Luwu Raya [19/8/2014]
Puncak musim hujan di Luwu Raya yang terjadi antara bulan April sampai bulan Juli telah berakhir. Dimana curah hujan rata rata 400-500 mm/bulan dengan jumlah hari hujan 90 %. telah mendatangkan banyak keuntungan diberbagai sektor pertanian, perkebunan maupun perikanan. Disektor lain ada beberapa kerugian yang mungkin timbul misalnya banjir bandang, tanah longsor dan akibat lainnya.


BMKG Online Group Discussion Ke 2 [17/7/2014]
Kesuksesan penyelenggaraan Online Group Discussion (OGD) yang pertama Jumat, 16 Mei 2014 yang lalu, mendorong Pusat Pendidikan menyelenggarakan Online Group Discussion ke-2 (OGD#2). Sedikit berbeda dengan kegiatan sebelumnya yang mengambil tema di bidang meteorologi - klimatologi, maka OGD#2 memilih tema tentang seismologi, untuk mengakomodir permintaan dari rekan-rekan geofisika kepada Pusdiklat BMKG, yang disampaikan dalam berbagai kesempatan.


Suhu Jakarta Turun Ekstrim hingga 9 derajat Celcius dalam sehari [16/7/2014]
Pada tanggal 13 Juli 2014 Jakarta mengalami penurunan suhu drastis hingga mencapai suhu 23,6°C dari sekitar 31,2°C. Fenomena ini langka terjadi, terutama di wilayah DKI Jakarta. Oleh karenanya, Pusat Penelitian dan Pengembangan BMKG kemudian melakukan analisa pada 6 stasiun di wilayah DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah (Cengkareng, Kemayoran, Tj. Priok, Curug, Cilacap, Citeko dan Dramaga) dan memperoleh hasil seperti pada Grafik 1.


Dukungan Informasi Cuaca untuk Pariwisata [14/7/2014]
Geliat perekonomian nasional terus didorong oleh pemerintah di berbagai sektor, salah satunya adalah sektor pariwisata. Berdasarkan data yang dihimpun BPS dan Pusdatin Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, disebutkan bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara selama 5 bulan pertama tahun 2014 (Januari-Mei) mencapai 3,7 juta orang atau tumbuh sebesar 9,96% dibanding periode yang sama pada tahun 2013 (Kompas 2 Juli 2014). Pertumbuhan tersebut dapat ditingkatkan lagi dengan mempromosikan daerah-daerah tujuan wisata baru yang selama ini belum dikenal atau sudah dikenal, tapi kemudahan akses transportasi ke daerah tersebut belum memadai. Akses transportasi ke daerah tujuan wisata baru tersebut dapat ditingkatkan lagi dengan membuka rute penerbangan baru dan meningkatan frekuensi penerbangannya. Saat ini sudah banyak dibuka penerbangan ke kota-kota kecil tujuan wisata, namun belum dilayani penerbangan regular, seperti ke Banyuwangi, Labuhan Bajo, Raja Ampat, Wakatobi (Sultra), Silangit (Sumut), dan Kalimarau-Berau (Kaltim).


Peran Pendidikan dan Pelatihan Dalam Membentuk Agen Perubahan Di BMKG [8/7/2014]
Perubahan adalah suatu proses yang sistimatis dengan menerapkan pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan suatu organisasi dari kondisi saat ini (lama) menjadi kondisi yang diinginkan (baru) menuju kearah kinerja yang lebih baik. Perubahan bukanlah satu proses yang sederhana, melainkan sangat komplek karena menyangkut struktur, proses, orang, pola pikir dan budaya kerja. Perubahan dalam reformasi birokrasi mengharuskan adanya transparansi, komunikasi dan keterlibatan semua pihak dalam proses perubahan reformasi birokrasi. Perubahan tidak harus selalu berarti mengganti sama sekali kondisi lama, akan tetapi juga dapat berbentuk terobosan baru, peningkatan pola lama, memberikan nilai tambah yang lebih ekonomis, efisien atau melakukan modifikasi dengan hasil yang lebih menguntungkan. Salah satu contoh yang representatif adalah adanya perubahan di Website BMKG, yaitu perubahan dari versi lama yang terkesan statis, monoton, kurang variatif dengan materi terbatas, menjadi tampilan seperti yang saat ini , yang terlihat lebih dinamis, variatif dan terus diperbaharui.


Menyikapi Tantangan Perubahan dalam Organisasi [7/7/2014]
Secara tidak sadar kita selalu menerima perubahan. Berjalannya waktu selalu memberi perubahan pada kita, antara lain: umur kita berubah, rambut berubah, keluarga berubah dan lingkungan kita juga berubah. Itu semua berjalan secara alamiah dan kita terima sebagai keniscayaan. Suasana kampanye pilpres tentu saja juga memberikan harapan akan ada perubahan di negara kita. Pada lingkup yang lebih kecil seperti BMKG, sepertinya juga sedang terjadi perubahan. Jajaran pimpinan BMKG yang lahir pada awal-sampai pertengahan tahun 50an akan habis (pensiun) pada akhir tahun 2014 dan digantikan oleh generasi berikutnya. Pergantian pimpinan BMKG di berbagai level kali ini menjadi tonggak perubahan penting karena hampir berbarengan dengan dimulainya pelaksanaan RPJMN 2015-2019 dan RENSTRA BMKG 2015-2019 serta terpilihnya presiden baru tahun ini. Kondisi tersebut ditengarai akan mempunyai konsekuensi adanya perubahan yang signifikan, sebagai bagian dari dinamika organisasi. Ditambah lagi dengan adanya perubahan sistem baik secara internal maupun eksternal yang akan memberi kontribusi besar terhadap perubahan tata kelola organisasi.


INFORMASI PEMODELAN TSUNAMI BMKG UNTUK NEGARA NEGARA SAMUDERA HINDIA [3/7/2014]
Akibat pengaruh tektonik aktif, Indonesia menjadi wilayah berpotensi tsunami di Samudera Hindia. Belajar dari kasus Tsunami Aceh, 26 Desember 2004 maka negara-negara sekitar samudera ini terus berbenah menghadapai bencana tsunami lokal dan far-field.


MENGELOLA ALAM DENGAN KEARIFAN LOKAL [2/7/2014]
Kita harus meninggalkan mata air buat anak cucu kita, jangan tinggalkan air mata. Demikian sepenggal kata bijak yang disampaikan seorang kepala kampung dalam satu acara televisi lokal Papua beberapa bulan yang lalu.


DIKLAT sebagai Motor Penggerak, Investasi dalam Meningkatkan Kinerja BMKG [26/6/2014]
Berdasarkan pp 101 tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil, disebutkan dalam Bab I, pasal 1 bahwa Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil yang selanjutnya disebut DIKLAT adalah proses penyelenggaraan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan Pegawai Negeri Sipil.

Read more: http://www.bmkg.go.id/bmkg_pusat/lain_lain/artikel/Sejarah_Dampak_El_Nino_di_Indonesia.bmkg#ixzz48vSgCXN6

Sulfur



   PENDAHULUAN
A.           Latar Belakang
Belerang merupakan elemen penting bagi semua kehidupan, dan secara luas digunakan dalam proses biokimia. Dalam reaksi metabolik, senyawa sulfur berfungsi sebagai bahan bakar baik dan pernafasan (oksigen-menggantikan) bahan untuk organisme sederhana. Sulfur dalam bentuk organik hadir di biotin vitamin dan tiamin, yang terakhir yang bernama untuk kata Yunani untuk belerang. Belerang merupakan bagian penting dari banyak enzim dan juga dalam molekul antioksidan seperti glutathione dan thioredoxin. Belerang organik terikat adalah komponen dari semua protein, sebagai asam amino sistein dan metionin. Ikatan disulfida sebagian besar bertanggung jawab untuk kekuatan mekanik dan terpecahkannya keratin protein, yang ditemukan di kulit terluarnya, rambut, dan bulu,
Di alam, belerang dapat ditemukan sebagai unsur murni dan sulfida dan mineral sulfat. Kristal elemen sulfur biasanya dicari oleh kolektor mineral untuk bentuk cerah mereka polyhedron berwarna. Menjadi berlimpah dalam bentuk asli, belerang dikenal di zaman dahulu, disebutkan untuk penggunaan di Yunani kuno, Cina dan Mesir. Asap belerang digunakan sebagai fumigants, dan belerang yang mengandung campuran obat yang digunakan sebagai balsem dan antiparasitics. Sulfur dirujuk dalam Alkitab sebagai belerang dalam bahasa Inggris, dengan nama ini masih digunakan dalam istilah non-ilmiah beberapa. Belerang dianggap cukup penting untuk menerima simbol sendiri alkemis nya.. Hal itu diperlukan untuk membuat kualitas terbaik dari mesiu hitam, dan bubuk kuning cerah itu dihipotesiskan oleh para alkimiawan yang mengandung beberapa sifat emas, yang mereka berusaha untuk mensintesis dari itu. Pada 1777, Antoine Lavoisier membantu meyakinkan masyarakat ilmiah bahwa belerang unsur dasar, bukan senyawa.
Elemen sulfur pernah diekstraksi dari kubah garam mana kadang-kadang terjadi dalam bentuk hampir murni, tetapi metode ini telah usang sejak akhir abad 20. Hari ini, hampir semua elemen sulfur diproduksi sebagai produk sampingan dari menghilangkan kontaminan yang mengandung sulfur dari gas alam dan minyak bumi. Menggunakan komersial elemen terutama dalam pupuk, karena kebutuhan relatif tinggi tanaman untuk itu, dan dalam pembuatan asam sulfat, bahan kimia industri primer. Terkenal lainnya menggunakan untuk elemen dalam pertandingan, insektisida dan fungisida. Banyak senyawa sulfur odiferous, dan bau gas alam odorized, aroma sigung, jeruk, dan bawang putih adalah karena senyawa belerang. Hidrogen sulfida yang dihasilkan oleh organisme hidup menanamkan bau busuk karakteristik untuk telur dan proses biologis lainnya dan elemen berkontribusi terhadap bau menyengat mereka ketika dibakar.

B.            Rumusan Masalah
1.      Bagaimanakah pengaruh Sulfur terhadap pertumbuhan tanaman ?
2.      Apa gejala defisiensi Sulfur pada tanaman ?
3.      Bagaimanakah sifat Sulfur didalam tanah ?

C.           Tujuan
Untuk mengetahui pengaruh, manfaat, defisiensi serta sifat Sulfur terhadap tanaman. Agar bisa memahami bagaimana cara mengatasi tanaman yang mengalami gangguan fisiologis karena defisiensi maupun kelebihan unsur sulfur ini.




II.                TINJAUAN PUSTAKA
Belerang merupakan elemen penting bagi semua kehidupan, dan secara luas digunakan dalam proses biokimia. Dalam reaksi metabolik, senyawa sulfur berfungsi sebagai bahan bakar baik dan pernafasan (oksigen-menggantikan) bahan untuk organisme sederhana. Sulfur dalam bentuk organik hadir di biotin vitamin dan tiamin, yang terakhir yang bernama untuk kata Yunani untuk belerang. Belerang merupakan bagian penting dari banyak enzim dan juga dalam molekul antioksidan seperti glutathione dan thioredoxin. Belerang organik terikat adalah komponen dari semua protein, sebagai asam amino sistein dan metionin. Ikatan disulfida sebagian besar bertanggung jawab untuk kekuatan mekanik dan terpecahkannya keratin protein, yang ditemukan di kulit terluarnya, rambut, dan bulu, dan elemen berkontribusi terhadap bau menyengat mereka ketika dibakar.
Sulfur terdapat dalam bentuk sulfat anorganik, Belerang atau sulfur merupakan unsur penyusun protein. Tumbuhan mendapat sulfur dari dalam tanah dalam bentuk sulfat (SO4 ). Kemudian tumbuhan tersebut dimakan hewan sehingga sulfur berpindah ke hewan, setelah itu Sulfur direduksi oleh bakteri menjadi sulfida dan kadang-kadang terdapat dalam bentuk sulfur dioksida atau hidrogen sulfida. Hidrogen sulfida ini seringkali mematikan mahluk hidup di perairan dan pada umumnya dihasilkan dari penguraian bahan organik yang mati. Tumbuhan menyerap sulfur dalam bentuk sulfat (SO4). Perpindahan sulfat terjadi melalui proses rantai makanan, lalu semua mahluk hidup mati dan akan diuraikan komponen organiknya oleh bakteri. Beberapa jenis bakteri terlibat dalam daur sulfur, antara lain Desulfomaculum dan Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S). Kemudian H2S digunakan bakteri fotoautotrof anaerob seperti Chromatium dan melepaskan sulfur dan oksigen. Sulfur di oksidasi menjadi sulfat oleh bakteri kemolitotrof seperti Thiobacillus.
Selain proses tadi, manusia juga berperan dalam siklus sulfur. Hasil pembakaran pabrik membawa sulfur ke atmosfer. Ketika hujan terjadi, turunlah hujan asam yang membawa H2SO4 kembali ke tanah. Hal ini dapat menyebabkan perusakan batuan juga tanaman. Dalam daur belerang, mikroorganisme yang bertanggung jawab dalam setiap trasformasi adalah sebagai berikut :
1)      H2S → S → SO4; bakteri sulfur tak berwarna, hijau dan ungu
2)      SO4 → H2S (reduksi sulfat anaerobik), bakteri desulfovibrio
3)      H2S → SO4 (Pengokaidasi sulfide aerobik); bakteri thiobacilli
4)      S organik → SO4 + H2S, masing-masing mikroorganisme heterotrofik aerobik dan anaerobik
Daur Biogeokimia belerang/sulfur adalah salah satu bentuk daur biogeokimia karbon. Pengertian dan definisi lain dari daur biogeokimia belerang/sulfur yaitu perubahan sulfur dari hidrogen sulfida menjadi sulfur diokasida lalu menjadi sulfat dan kembali menjadi hidrogen sulfida lagi. Sulfur dialam ditemukan dalam berbagai bentuk. Dalam tanah sulfur ditemukan dalam bentuk mineral, diudara dalam bentuk gas sulfur dioksida dan di dalam tubuh organisme sebagai penyusun protein.
Siklus sulfur di mulai dari dalam tanah. yaitu ketika ion-ion sulfat di serap oleh akar dan di metabolisme menjadi penyusun protein dalam tubuh tumbuhan. Ketika hewan dan manusia memakan tumbuhan, protein tersebut akan berpindah ketubuh manusia. Dari dalam tubuh manusia senyawa sulfur mengalami metabolisme yang sisa-sisa hasil metabolisme tersebut diuraikan oleh bakteri dalam lambung berupa gas dan dikeluarkan melalui kentut. Salah satu zat yang terkandung dalam kentut adalah sulfur. Semakin besar kandungan sulfur dalam kentut maka kentut akan semakin bau.
Hidrogen sulfida (H2S) berasal dari penguraian hewan dan tumbuhan yang mati oleh mikroorganisme seperti bakteri dan jamur. Hidrogen sulfida hasil penguraian sebagian tetap berada dalam tanah dan sebagian lagi di lepaskan ke udara dalam bentuk gas hidrogen sulfida. Gasi hidrogen sulfida di udara kemudian bersenyawa dengan oksigen membentuk sulfur dioksida. Sedangkan hidrogen sulfida yang tertinggal di dalam tanah dengan bantuan bekteri akan diubah menjadi ion sulfat dan senyawa sulfur oksida. Ion sulfat akan diserap kembali oleh tanaman sedangkan sulfur dioksida akan terlepas keudara.
Diudara sulfur dioksida akan bereaksi dengan oksigen dan air membentuk asam sulfat (H2SO4) yang kemudian jatuh ke bumi dalam bentuk hujan asam. Hujan asam juga dapat disebakan oleh polusi udara seperti asap-asap pabrik, pembakaran kendaraan bermotor, dll. Hujan asam dapat menjadi penyebab korosi batu-batuan dan logam. H2SO4 yang jatuh kedalam tanah oleh bakteri di pecah lagi menjadi ion sulfat yang kembali diserap oleh tumbuhan, tumbuhan di makan oleh hewan dan manusia, makhluk hidup mati diuraikan oleh bakteri menghasilkan sulfur kebali. bergitu seterusnya. Siklus sulfur atau daur belerang tidak akan pernah terhenti selama salah satu komponen penting penting seperti tumbuhan masih ada di permukaan bumi ini.
Dalam daur sulfur atau siklus belerang, untuk merubah sulfur menjadi senyawa belerang lainnya setidaknya ada dua jenis proses yang terjadi. Yaitu melalui reaksi antara sulfur, oksigen dan air serta oleh aktivitas mikrorganisme. beberapa mikroorganisme yang berperan dalam siklus sulfur adalah dari golongan bakteri, antara lain adalah bakteri Desulfomaculum dan bakteri Desulfibrio yang akan mereduksi sulfat menjadi sulfida dalam bentuk hidrogen sulfida (H2S)
III.             PEMBAHASAN

Belerang atau sulfur, adalah unsur kimia dengan nomor, atom 16 diwakili oleh S. simbol Ini adalah, berlimpah multivalen non-logam. Pada kondisi normal, atom belerang membentuk molekul siklik octatomic dengan rumus kimia S8. Elemen sulfur merupakan padatan kristalin kuning cerah. Kimia, belerang dapat bereaksi baik sebagai oksidan atau mengurangi agen. Ini mengoksidasi logam yang paling dan beberapa nonmetals, termasuk karbon, yang mengarah untuk mengisi negatif dalam senyawa organosulfur kebanyakan, tetapi mengurangi oksidan yang kuat beberapa, seperti oksigen dan fluor.

Peranan Sulfur
Unsur S diperlukan oleh tanaman dalam jumlah relatif banyak, lebih sedikit dibanding N atau K, serupa dengan  P, Ca dan Mg.; sebagai penyusun asam amino essensial: sistin, sistein dan metionin, 90% S dalam tanaman berupa protein, ikatan disulfida, susunan protein dan aktivitas ensim, pembentukan klorofil; Ferredoksin: protein Fe-S, reaksi redoks: fotosintesis, penyematan nitrogen, reduksi nitrat dan sulfat; koensim: koensim A dan vitamin, biotin, thiamine, B1; senyawa volatil: tanaman keluarga Onion dan crucifer (cabbage).

Manfaat Umum Sulfur
1)      Belerang dioksida (SO2) digunakan sebagai fungisida (anti jamur), fumiga (anti serangga), dan dalam jumlah yang sangat kecil digunakan sebagai pengawet makanan.
2)      Natrium tiosulfat pentahidrat (Na2S2O3.5H2O) digunakan dalam proses pencucian film. Senyawa ini dikenal dengan merk hipo.
3)      Asam sulfat (H2SO4) dipakai sebagai pelarut, pengisi aki, pembuatan garam sulfat, pembuatan pupuk, pengolahan minyak, dan pewarnaan tekstil.

Manfaat Khusus Sulfur
1)      Pembentukan asam amino dan pertumbuhan tunas serta membantu pembentukan bintil akar tanaman
2)      Pertumbuhan anakan pada tanaman
3)      Berperan dalam pembentukan klorofil serta meningkatkan ketahanan terhadap jamur
4)      Pada beberapa jenis tanaman antara lain berfungsi membentuk senyawa minyak yang menghasilkan aroma dan juga aktifator enzim membentuk papain

Mobilitas S
Unsur S relatif tidak mobil dalam tanaman: tidak segera dapat dialihtempatkan dari daun yang tua ke bagian titik tumbuh, gejala kekahatan muncul pertama pada bagian atas yaitu daun muda. Gejala kekahatan: kerdil (stunted), pertumbuhan spiral (spindly growth), seringkali seluruh tanaman menjadi klorosis seragam (uniformly chlorotic), tanaman Crucifer membentuk warna kemarahan dan ungu, kadar protein rendah, pengumpulan N bukan protein.
Jika kadar S berlebihan tidak secara langsung mempengaruhi tanaman tersebut atau organisme yang memakannya, tetapi dapat menyebabkan masalah kegaraman karena S merupakan anion yang dominan pada tanah salin, pelindian yang hebat dari  SO4= meningkatkan kehilangan kation.



Sumber S
1)      Perombakan bahan orgaik tanah, karena 90% S dalam tanah berada dalam bentuk organik tersebut
2)      Rabuk, kompos dan biosolid.
3)      Sulfat yang terjerap pada tapak pertukaran anion dari oksida Al dan Fe.
4)      Mineral S: pada musim kering sulfida dalam bentuk anaerob.
5)      Pengendapan atmosfer dari inudstri, hujan asam.
6)      Pupuk S.

Bentuk S Yang Diserap Tanaman
  1. Penyerapan langsung SO2 oelh daun: jumlahnya kecil, jika kadar S dalam udara tinggi akan meracuni tanaman.
  2. Penyerapan akar etrutama dalam bentuk: sulfat (SO4=).

Gerakan S Menuju Akar
Di dalam tanah sulfat bergerak karena aliran masa dan difusi. Terutama beregrak karena aliran masa (mass flow), difusi memiliki arti penting pada tanah dengan kadar S yang rendah. Kadar dalam larutan tanah 5-20 ppm. Aras yang mencukupi kebutuhan tanaman 3-5 ppm dalam tanah.

Transformasi S Dalam Tanah
Proses alih rupa antara lain: Mineralisasi – immobilisasi, Adsorpsi – desorpsi, Presipitasi – dissolusi, Oksidasi – reduksi, Volatilisasi.

Mineralization – Imobilisasi
1)      Daur S organik serupa dengan N organik.
2)      Mineralisasi : melepas S menjadi anorganik, SO4 tersedia bagi tanaman
3)      Imobilisasi (assimilation): kebalikan dari mineralisasi, pengambilan S anorganik dari tanah oleh mikrobia untuk membentuk tubuhnya
4)      Keseimbangan antara mineralisasi dan imobilisasi ditentukan oleh nisbah C:S dan N:S, nisbah C:N:S bahan organik sekitar  120:10:1,4.
5)      Dalam bahan organik terkandung 1% S. Dengan susunan bentuk ester dan eter sulfat sebesar 30-60% melalui ikatan C-O-S, bentuk asam amino sekitar 10-20%, residual S sebesar 30-40%.
6)      Ensim sulfatase : mirip dengan ensim fosfatase, melepas sulfat dari ester sulfat.
7)      Pengaruh nisbah C:S : (1)  C:S >400   S imobilisasi > S mineralisasi, (2) C:S = 200-400 S imobilisasi = S mineralisasi, (3) C:S <200 mineralisasi="" s=""> S imobilisasi.

Adsorpsi – Desorpsi
1)      Senyawa SO4 2- yangterjerap merupakan bentuk S dari pangkalan labil bersifat segara tersedia, mengisi kekosongan pada larutan tanah . Uji S tanah umumnya misalnya ekstraksi dengan Ca-fosfat.mengukur S yang terlarut ditambah S yang terjerap. Reaksi ini penting pada tanah yang telah terlapuk dengan lanjut. Kekuatan adsorpsi: H2PO4- > SO4= > NO3-.
2)      Faktor yang mempengaruhi kapasitas jerapan: koloid tanah, hidroksida Fe-Al, kandungan lempung tipe 1:1, kemasaman tanah, besarnya muatan tergantung pH, kapasitas pertukaran anion.
3)      Komposisi larutan tanah juga mempengaruhi: kadar SO4, keberadaan anion dan kation lainnya, pendesakan oleh fosfat.
4)     
Presipitasi – Dissolusi
1)      Gypsum (CaSO4) di daerah kering, merupakan bentuk pengendapan bersama antara S dengan Ca-karbonat  pada tanah kapuran
2)      Sulfida pada kondisi anerob di tanah tergenang:  H2S mengendap sebagai FeS atau ikatan logam-S yang lainnya, untuk melarutkan diperluakn proses oksidasi.

Okidasi – Reduksi
1)      Bentuk S : beragam dari bilangan oksidasi -2 sampai + 6, yaitu silfida, polisulfida, S elemen, tiosulfat, sulfit dan sulfat.
2)      Bentuk oksidasi terbanyak sebagai sulfat, sulfat yang diserap tanaman akan direduksi menjadi S organik.
3)      Proses Oksidasi dan reduksi S dibantu oleh mikrobia
4)      Senyawa S anorganik tereduksi terdapat pada tanah tergenang kondisi anaerob : (wetlands, swamps, tidal marshes), pada kondisi aerob segera mengalami oksidasi.
5)      Oksidasi S: mikrobia ototrofik dan heterotrofik : Thiobacillus sp. meneybabkan pemasaman. H2S + 2O2 à H2SO4 à  2H+ + SO4= dijumpai pada daerah tambang (acid mine drainage) terjadi oksidasi senyawa sulfida speerti pyrite (FeS). Dapat juga digunakan di lahan pertanian untuk mengoksidasi S elemen : 2S + 3O2 + 2H2O à  2H2SO4 à  4H+ + 2SO4=

Defisiensi Sulfur
Gejala kekurangan sulfur pada tanaman pada umumnya mirip kekurangan unsur Nitrogen, misalnya :
1)      Daun berwarna hijau mudah pucat hingga berwarna kuning
2)      Tanaman kurus dan kerdil
3)      Pertumbuhan dan perkembangannya lambat.

Pengangkutan S
1)      Erosi: hilangan bersama bahan organik
2)      Pelindian: sulfat sangat mobil dalam tanah, sulfat merupakan anion yang dominan pada air lindian, pelindinan meningkat jika kandungan kation monovalen (K+, Na+)  besar
3)      Hilang karena volatilisasi

Volatilisasi
Kehilangan karena menguap: hasil transformasi mikrobia dalam tanah, misalnya  dimethyl sulfide (CH3SCH3), atau karbon disulfide, methyl mercaptan, dan dimethyl disulfida. Pengaruhnya terhadap kesuburan tanah rendah. Dapat juga menguap melalui daun, hal ini mempengaruhi mutu pakan.

Manajemen pupuk S
Pada tanah pasiran sering kekahatan S, karena rendahnya bahan organik tanah dan pelindian yang hebat terhadap SO4, kebutuhan tanaman beragam: diperlukan oleh alfalfa, clovers, canola, kubis dan sayuran serupa, hmt Brassicas, bawang merah danbawang putih, hmt rerumputan atau legum, rumput menyerap S lebih cepat dibanding legum.  Sumber sulfur: S unsur (tidak segera tersedia, harus dioksidasi lebih dahulu menjadi SO4, oksidasi berlangsung dalam reaksi masam). Sumber lain ikut dalam superfosfat. SSP (14% S), TSP (1,5% S).


IV.             PENUTUP
A.           Kesimpulan
            Adapun kesimpulan yang didapat dari pembahasan makalah tentang Sulfur (S) atau Belerang ini adalah :
1.      Sulfur  merupakan elemen penting bagi semua kehidupan, dan secara luas digunakan dalam proses biokimia, dalam reaksi metabolik, sebagai bahan bakar baik dan pernafasan (oksigen-menggantikan) bahan untuk organisme sederhana, serta merupakan bagian penting dari banyak enzim dan juga dalam molekul antioksidan.
2.      Unsur S diperlukan oleh tanaman dalam jumlah relatif banyak, lebih sedikit dibanding N atau K, serupa dengan  P, Ca dan Mg.
3.      Gejala kekurangan sulfur pada tanaman pada umumnya mirip kekurangan unsur Nitrogen, misalnya : Daun berwarna hijau mudah pucat hingga berwarna kuning, tanaman kurus dan kerdil, pertumbuhan dan perkembangannya lambat.
4.      Di dalam tanah sulfur bersifat sangat mobil, artinya sangat mudah berpindah, hilang dan tidak tersedia bagi tanaman.
5.      Kekurangan unsur sulfur bisa diatasi dengan penambahan pupuk buatan seoerti TSP dan ZA.

B.            Saran
Sulfur merupakan unsur hara esensial makro sekunder bagi tanaman, maka dari itu ketersediaan unsur hara ini sangatlah penting bagi tanaman. Kekurangan unsur hara ini dapat menyebabkan gejala sakit pada tanaman. Untuk itu sangat penting jika kita bisa memahami tentang gejala defisiensi sulfur ini pada tanaman. Untuk mengatasi masalah tanaman kekurangan asupan sulfur maka bisa diatasi dengan memberikan tambahan unsur sulfur ini dengan pupuk tambahan.
DAFTAR PUSTAKA
Adams, C.R, K.M Bamford and M.P.  Early. 1995.  Principles of Horticulture, seconded. Butterwoutn – Heinemann Ltd. British.
Badan Pusat Statistik. 2006.  Produksi Sayuran di Kabupaten Karawang.  Karawang.
BAPEDA Kabupaten Karawang.  2004.  Penelitian/Uji Unsur Hara Tanah.  IPB. Bogor.
East West Seed Indonesia.  2006.  Deskripsi Beberapa Varietas Caisim. PT. East West Seed Indonesia. Purwakarta.
Goh, K. M and R. J.  Haynes. 1986.  Sulfur and Agronomics practices.  p: 379-468. In  R.J. Haynes.  Mineral Sulfur in Plant Soil System.  Academic Press.  Florida
Gomez, A.  K. and A.  A.  Gomez. 1995.  Prosedur Statistik Untuk Penelitian Pertanian.  (terjemahan oleh Enang Sjamsudin & Justika Baharsjah).  Edisi 11. UI press, Jakarta
Grunes. D. L. and W. H. Allaway.  1985.  Nutritional Quality of plants in Relation to Fertilizer Use. p : 589-616. in Englstad O. P (ed.) Fertilizer Technology and Use Soil Science Society of America Inc.  Madison Wiscounsin.
Hakim. 1986.  Dasar Ilmu Tanah.  Universitas Lampung Press.  Bandar Lampung.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah.  Akademika Presindo, Jakarta.
Harjadi, S. S. 1979.  Pengantar Agronomi. PT.  Gramedia. Jakarta.
Harlina, N. 2003.  Pemanfaatan Pupuk Majemuk Sebagai Sumber Hara.  Institut  Pertanian Pertanian Bogor.
Haryanto B, Suhartini T, Rahayu E, dan Sunarjo.  2006.  Sawi dan Selada. Penebar Swadaya.  Jakarta  
Himawan, A. Sigit dan E. Suhaeli.  2004.  Laporan Uji Coba Lapangan Pupuk Kompos Granular.  PT. Komposindo Granular Arendi.  Bandung
Jacob. A. and H. V. Uexkull. 1960.  Fertilizer Use:Nutrition and Manuring of Trofical Crops.  Translet by C. L.  Whittles.  Hannover.  593 p.
Jamaludin, L. 2005.  Estimasi Defisiensi S Dalam Lahan Padi Varietas Ciherang Di Lahan Sawah Irigasi.  Fakultas Pertanian.  Unsika.  Karawang.
Komposindo Granular Arendi.  2005.  Kompos Granular Rabog. PT Komposindo Granular Arendi.
Lingga.  1986.  Petunjuk Penggunaan Pupuk.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Lingga, P dan Marsono.  2003.  Petunjuk Penggunaan Pupuk.  Penebar swadaya. Jakarta
Mahanani, C. R. L 2003.  Siklus Sulfur.  Fakultas Pertanian Jurusan Budidaya Pertanian.  Institut Pertanian Bogor.  
Murbandono. 1990.  Membuat Kompos.  Cetakan Keenam.  PT Swadaya Jakarta.
Nyapka Yusup M, Lubis M.A, Pulung Anwar Mamat, Amrah Ghaffar A, Munawar Ali, Hong Ban Go, Hakim Nurhajati.  1988.  Kesuburan Tanah.  Universitas Lampung. Palembang.
Opena, R. T and D. C. S Tay.  1994.  Brassica rapa L.  Group Caisim.  Hal 153-157. J. S. Simonsma dan K. Pileuk.  Plant Recource of Sout-East Asia, Vegetable.  PROSEA Foundation.
Palungkun, R dan Budiarti, A. 1993.  Sweet Corn and Baby Corn.  Penebar Swadaya.  Jakarta.
Poerwowidodo.  1992.  Telaah Kesuburan Tanah.  Angkasa Bandung. Hal 37-55.   Bandung.
Rahardi, F., dkk.  1993.   Agribisnis Tanaman Sayur.   Penebar Swadaya.   Jakarta
Rakhmiati, Yatmin, Fahrurrozi. 2003.  Respon Tanaman Sawi Terhadap Proporsi Dan Takaran Pemberian S.  Jurnal Wacana Pertanian Vol. III. Hal 119-121. Bandar Lampung.
Sarief, S. 1989.  Kesuburan Dan Pemupukan Tanah Pertanian.  Pustaka Buana.  Bandung.
Soenaryono, H. 1989.  Budidaya Brassica (Kubis) Penting Di Indonesia.  Hal 371 – 400 dalam Sri Setyati Harjadi (Ed). Dasar-Dasar Hortikultura.  Jurusan Budidaya pertanian. Fakultas Pertanian Bogor. Bogor
Soepardi, G. 1983.  Sifat dan Ciri Tanah.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor
Soeseno, S.  1999.  Bisnis Sayuran Hidroponik.  PT. Gramedia.  Jakarta
Suwarsono. 1980.  Kesuburan Tanah.  Departemen Ilmu tanah. IPB.  Bogor.

FUNGSI SULFUR ( S ) ATAU BELERANG BAGI TANAMAN  
Penulis : Nurman Ihsan, SP ( THL TBPP DEPTAN di BANTEN )
Unsur Sulfur dalam Pupuk
Bila kitamengenal pupuk ZA, maka di dalamnya terdapat kandungan unsur Ndan S. Unsur Nitrogennya sebesar 21 % dan Sulfur ( belerang ) sebesar  24%. Artinya apa? kandungan Sulfurnya kok bisa lebih tinggi dari N nya.
Selain dalam pupuk ZA, unsur belerang terdapat dalam pupukPonska ( 15 15 15 10 ). Artinya di dalam pupuk ponska ada sekitar 10 % unsursulfurnya.
FungsiSulfur Bagi Tanaman
Oleh sebab itu, marilah kita mengenal fungsi Sulfur ini bagitanaman. Unsur Sulfur yang lebih dikenal dengan nama Belerang diserap tanaman dalam bentuk ion sulfat (SO4=). Zat ini merupakan bagian dari protein yangterdapat dalam bentuk cystein, methionin, thiamine.
Adapunfungsi umum sulfur sbb :
1.       Membantu pembentukan butirhijau daun sehingga daun menjadi lebih hijau.
2.      Menambah kandungan proteindan vitamin hasil panen.
3.     Meningakatkan jumlah anakan yangmenghasilkan (pada tanaman padi).
4.      berperan penting padaproses pembulatan zat gula.
5.      Memperbaiki warna, aroma,dan kelenturan daun tembakau ( khusus pada tembakau omprongan).
6.      Memperbaiki aroma,mengurangi penyusutan selama penyimpangan, memperbesar umbi bawang merah danbawang putih.http://banyuagung.wordpress.com/2009/07/30/fungsi-pupuk-za-bagi-tanaman-kita
Sebagian besar sulfur di dalam tanah berasal dari bahan organikyang telah mengalami dekomposisi dan sulfur elemental ( bubuk/ batu belerang )dari aktivitas vulkanis. Sulfur yang larut dalam air akan segera diseraptanaman, karena unsur ini sangat dibutuhkan tanaman terutama padatanaman-tanaman muda.  http://pustaka.rumahilmu.or.id/pendidikan.
Fungsi Sulfur Bagi Tanaman Padi
Belerang ( sulfur) padapadi diperlukan untuk sintesis asam amino sistin, sistein, dan metionin, yangselanjutnya membentuk protein. Selain itu belerang sangat membantu perkembanganpucuk, akar dan anakan.
Padi sawah yang mengalamikekurangan belerang umurnya lebih panjang dengan persentase kehampaan gabahyang tinggi, untuk mengatasi kekahatan belerang pada padi, perlu dilakukanupaya perbaikan kualitas dan produktivitas tanah melalui pemberian pupukanorganik dan pupuk organik.
Salah satusumber S anorganik yang baik untuk padi sawah adalah pupuk amonium sulfat [(NH4)2SO4] karena dapat memasok Syang tersedia bagi tanaman, yaitu sulfat (SO42-). http://blogs.unpad.ac.id/emmasofyan
BILA TANAMAN KEKURANGAN UNSUR HARA BELERANG,MAKA:
1.      Produksi protein tanaman menurun,pertumbuhan sel tanaman kurang aktif.
2.     Terjadi penimbunana amida bebas dan asamamino sampai batas yang berbahaya bagi tanaman, terjadi kerusakan aktifitasfisiologis dan mudah tererang hama dan penyakit.
3.     Produksi butir hijau daun menurun, prosesasimilasi dan sintesis karbohidrat terlambat, tanaman mengalami klorosis /kekuningan, dan hasil panen rendah.
Oleh sebab itu, pupuk inidiberikan pada tanaman padi dalam masa vegetatif atau tanaman yang hasilpanennya di daun seperti bayam, sawi dll.
Pada suatu kesempatan,saya pernah bertanya pada petani sawi organik, ” kok sawi ini rasanya enakpak?”. Dijawabnya,” kalo untuk pupuk, saya nga pake urea, tapi pake pupuk ZA saja”.


  1. Karakteristik
  • Belerang ditemukan sebagai  unsur bebas ,sebagai sulfida(FeS,PbS,ZnS),sebagai sulfat (CaSO, 2H2O,MgSO4,7H2O).
  • Terdapat dalam 2 bentuk alotrop yaitu  belerang ronbuk ( belerang  ,belerang monokun ( belerang  )
                                         96,5                    

  • Unsur belerang berupa campuran satuan S8,S6,S4,S2.


  1. b.      Sifat Fisika
Sifat-sifat fisik belerang adalah :
  • Nomor atom                : 16
  • Massa                          : 32,064
  • Konfigurasi Elektron  : 3s2 3p4
  • Jari-jari Atom              : 0,103 nm
  • Keelektronegatifan     : 2,5
  • Titik Beku                   : 119 0C
  • Titik Didih                  : 444,6 0C
  • Kerapatan                    : 2,06
  • Potensial Elektron       : -0,48
  1. c.       Cara Penambangan
Sebagai unsur biasanya terdapat dalam lapisan 150 m di dalam tanah kemudian  penambangan dilakukan dengan cara khusus ,ini dikenal dengan cara FRASCH yaitu.